Penyakit Akhir Tahun Yang Perlu Diwaspadai
Tidak ada sebetulnya literatur yang menyebut "penyakit akhir tahun".
Yang ada, penyakit yang lazim muncul dan berjangkit di akhir tahun. Apa saja penyakit
itu?
SAKIT MAG
Memasuki bulan terakhir setiap tahun, pola, jadwal kegiatan, dan kebiasaan kita
umumnya berubah. Lebih sibuk, dikejar tenggat waktu pekerjaan, dan sebagainya.
Belum lagi urusan pribadi. Banyak yang harus dibeli, disiapkan, dan direncanakan.
Semua itu mengubah jam makan, waktu beristirahat. Waktu buat olahraga pun tersita,
selain butuh ekstra tenaga. Selain waktu makan jadi kacau, tekanan dan desakan
pekerjaan kantor sering pula menambah beban stres mental.
Stres menambah buruk kondisi mag yang sudah lama diidap. Pada yang sebelumnya
tak pernah mengeluh mag, bisa jadi akan merasa tak enak di ulu hati, malas makan,
kembung, dan mungkin pening, yang merupakan gejala mag.
Oleh karena bulan puasa tahun ini jatuh pada bulan akhir tahun, bagi yang mag-nya
sudah sakit, puasa bisa mengganggu juga. Lain halnya dengan mag lantaran pikiran.
Mag karena pikiran menjadi lebih enak jika dibawa berpuasa, sebab dengan berpuasa,
pikiran lebih ayem dan stres jadi kendur. Sedang mag karena kantung nasi luka
(tukak atau ulcus), dibawa puasa malah tambah tidak enak, karena luka mag tambah
menganga.
Penyakit mag memasuki hari-hari akhir tahun dapat juga dipicu oleh seringnya
makan di luar. Menu bukan makanan rumah sering tak akrab dengan lambung. Pesta,
makan di restoran, atau menyantap makanan kiriman tetangga. Perubahan menu bisa
memicu serangan mag juga.
Maka, bagi yang merasa mengidap mag, waspada menjelang akhir tahun. Sediakan
obat mag setiap saat. Begitu merasa tak enak usai menyantap sesuatu, telat makan,
atau makan dengan porsi berlebih, segera minum obat mag. Kenapa perlu segera minum
obat? Jika masih awal, biasanya serangan mag lekas mereda. Menjadi buruk berkepanjangan
jika mag terlambat diobati. Sekali mag menyerang atau kambuh, perlu waktu dua
mingguan untuk memulihkannya.
Yang acap terjadi, obat mag dihentikan begitu keluhan sudah tak terasakan.
Mestinya obat mag (terutama bagi yang sudah pernah kena) perlu dilanjutkan sedikitnya
dua mingguan, kendati sudah tak ada keluhan. Untuk yang mag-nya kambuh, cukup
dengan meminum jenis obat mag penetral asam lambung (antacidum) seperti yang biasa
dijual di warung. Bagi yang baru kena, pilih jenis obat yang menekan pompa asam
lambung, selain pemberian antibiotika untuk sedikitnya dua minggu.
Kenapa mag perlu antibiotika? Pada sebagian besar kasus mag, kedapatan ada
kumannya (helicobacter pylori). Kuman ini yang menggerogoti lapisan lambung, sehingga
terbentuk luka. Tanpa membasmi kuman mag dan hanya minum obat mag, mag umumnya
tak kunjung sembuh. Demikian pula jika serangan mag ada unsur stresnya. Ada orang
tertentu dengan kepribadian mag, yang suka "makan dalam". Buat mereka,
masalah kecil jadi besar, tak ada masalah dibuat jadi masalah. Selain obat mag,
orang begini perlu pula obat penenang.
KERACUNAN MAKANAN
Ini istilah untuk salah makan. Artinya, makanan sudah tidak segar (basi), tidak
cocok terhadap jenis makanan tertentu (sea food), atau makanan yang tercemar bibit
penyakit. Bisa terjadi di rumah, jajan di luar rumah, termasuk makan di restoran.
Mendadak mual, diikuti muntah, lalu mencret. Gejala ini sehari-hari dikenal sebagai
muntaber. Namun, berbeda dengan muntaber kolera, muntaber keracunan makanan biasanya
lebih ringan. Serangan mencret dan muntah baru dikategorikan muntaber jika dalam
sehari buang air besar lebih dari 5 kali. Biasanya disertai mulas sebelum maupun
sewaktu buang air besar. Mungkin ada demam, nyeri kepala, atau ngilu di tulang
dan sendi.
Kita perlu melacak habis makan apa muntah dan mencret muncul, dan itu yang
dicurigai sebagai penyebabnya. Umumnya, berasal dari jenis makanan di luar kebiasaan
harian. Makanan jajanan, makanan pesta, atau menu baru yang jarang kita menyantapnya
di rumah.
Namun, perlu dibedakan muntaber akibat salah makan dengan serangan mag. Orang
terserang mag bisa mencret juga. Bedanya dengan mencret muntaber, mencret mag
biasanya kurang dari lima kali dalam sehari, tidak disertai mulas, yang keluar
banyak angin, dan umumnya tidak demam. Muntaber sebab infeksi, selain lebih dari
5 kali, keluarnya sedikit-sedikit, disertai mulas, masih kepingin buang air besar
tapi tidak bisa keluar, disertai demam, nyeri kepala, dan pegal linu di tulang
dan sendi, seperti pada infeksi usus oleh kuman atau amoeba disentri, misalnya.
Pada mencret oleh infeksi, tinja biasanya lembek, bercampur lendir, bisa ada
bercak darah segar, dan berbau amis. Pada mag, tinja lembek dan cair, keluar sekaligus
banyak bersama banyak angin, dan tidak berbau anyir. Obatnya tidak sama. Jika
keliru memberi obat, magnya tak reda-reda, atau muntaber tak berhenti jika tidak
minum obat antidiare (yang dijual bebas di warung), dan tidak pula ditambah antibiotika
pembasmi kumannya.
Tanpa memberi antibiotika, muntaber sebab infeksi akan terus berkepanjangan.
Perut mulas-mulas terus, tak enak di ulu hati, kembung, dan rasa ingin buang air
besar, tapi tidak bisa keluar, atau kalau keluar hanya sedikit. Ini tak boleh
dibiarkan, sebab infeksi bisa berlarut-larut. Apalagi kalau betul disentri. Komplikasi
disentri bisa ke hati, kandung empedu, selain merusak usus besar. Muntaber sebab
infeksi selain mengganggu usus besar, sering juga mengganggu lambung, tergantung
jenis kuman penyebabnya. Itu sebab selain mencret, lambung juga menyemprotkan
isinya keluar bersama muntahan.
Muntah dan mencret pada keracunan makanan sesungguhnya reaksi penolakan tubuh
(perlindungan) terhadap zat racun yang seharusnya jangan dihalangi. Itu sebab,
pada serangan infeksi perut, sebaiknya tidak lekas-lekas menyetop mencretnya.
Kenapa? Dengan lekas-lekas menyetop mencret, bibit penyakit justru gagal dikeluarkan,
tertahan di dalam usus, dan akan berkembang biak, sehingga infeksi usus bertambah
parah. Maka, di awal-awal serangan muntaber, biarkan mencret dan muntah berlangsung.
Obat antimuntah dan antimencret baru diberikan jika sudah tahap kelewat hebat,
sehingga mengancam tubuh kekurangan cairan (dehidrasi). Pada kasus kolera, muntah
dan mencret bisa berpuluh-puluh kali mengocor seperti air ledeng. Pada muntaber
sebab kolera yang bisa berbahaya jika dibiarkan.
Sambil mengamati muntah dan mencretnya, perbanyak minum. Kalau ada oralit,
lebih baik. Setiap kali muntah dan mencret, ganti segelas larutan oralit, terutama
pada balita dan usia lanjut. Kedua kelompok umur ini rentan terhadap kekurangan
cairan, dan mudah terancam syok akibat kehilangan cairan.
Selanjutnya >>>>