Turis Asing Puas Naik Busway

Di tengah kecaman terhadap beroperasinya sistem busway, sejumlah turis mancanegara mencoba naik armada bus yang nyaman berpendingin udara itu.

Beberapa turis asal Australia, Inggris, dan Prancis yang dijumpai di Jakarta, Selasa, mengatakan, bis-bis khusus yang mampu memangkas waktu tempuh di koridor utama Jakarta itu seharusnya sejak dulu diaktifkan, karena membantu mereka menikmati suasana Ibukota tanpa membuang-buang waktu.

"Memang sangat penuh sesak. Mungkin karena barang baru bagi orang-orang Jakarta. Bisnya juga cukup bersih dan memudahkan kami pergi dan pulang ke pusat perbelanjaan atau kantor-kantor perwakilan penerbangan atau tempat lain. Seharusnya dari dulu ada," kata William Smith (43), turis asal Inggris yang sudah dua pekan berada di Jakarta.

Smith, "turis backpacker" (turis yang ngirit, berbekal ransel di punggung) yang menginap di satu hotel di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, memaklumi animo masyarakat Jakarta yang sangat tinggi terhadap busway ini, namun dia menginginkan agar armada bis ini bisa tetap stabil kualitas pelayanannya.

Sebetulnya, kata lelaki yang telah beberapa kali ke Indonesia ini, banyak turis mancanegara yang diketahuinya ingin lebih lama menghabiskan waktu di Jakarta karena banyak tempat atau suasana khas yang bisa dinikmati mereka, apalagi harga barang-barang dan keperluan hidup di sini relatif murah dengan kualitas cukup baik.

"Tetapi masalahnya mereka selalu menyaksikan kemacetan yang parah dan rasanya semakin parah ketimbang dua tahun lalu waktu saya datang. Makanya para turis itu lebih memilih ke Bali atau Yogyakarta atau Lombok, atau tempat lain. Jakarta hanya untuk mengurus tiket pesawat terbang untuk mereka pulang," katanya.

Seorang temannya, Alicia Thorpe (23) asal Australia yang saat ditemui sedang mengantre di Halte Dukuh Atas, juga menyatakan hal yang sama. Hanya saja, Thorpe mengharapkan agar berbagai sarana umum, semisal toilet dan tempat sampah diperbanyak.

Dia menyatakan kesukaannya atas keberadaan busway ini. Ia mengaku tahu adanya pro dan kontra terhadap keberadaan armada ini.

"Memang saya lihat di jalur non busway ada kemacetan yang lebih parah lagi. Tetapi bagi kami busway ini menolong karena bisa membuat kami tidak membuang waktu untuk menikmati Jakarta. Jalur seperti ini akan diperluas lagi ya?" kata perempuan yang bersama Smith akan berbelanja baju di bilangan Blok M, Jakarta Selatan itu.

Mereka berdua bersama turis manca negara lain, Pierre Villain (27) asal Perancis, sebetulnya menginginkan ada sejenis bus yang bisa dipakai untuk melihat-lihat Jakarta dengan jendela yang besar-besar dan seorang pemandu. Bisa saja bis-bis itu dioperasikan oleh biro-biro perjalanan lokal.

"Seperti di negara saya, selalu ada bus untuk city tour seperti itu dengan pemandu yang sangat mengerti tentang kotanya. Jadi jika kami ingin berbelanja atau melihat dari dekat gedung tertentu bisa mudah sekali dilakukan. Cuma saat ini Jakarta mulai sering hujang," katanya.

Dia juga mengutarakan kekhawatirannya tentang kemungkinan gangguan keamanan yang ditimbulkan para copet atau preman yang suka ditemuinya di tempat-tempat umum. Makanya dia selalu lebih berhati-hati menyimpan barang-barang atau uangnya jika berada di dalam kerumunan massa.

Setelah enam hari perkenalan busway kepada masyarakat, minat masyarakat Jakarta masih sangat tinggi yang ditandai bis-bis warna merah-oranye ini selalu disesaki orang-orang yang ingin menaiki armada angkutan di jalur khusus itu.

Di lantai bawah Terminal Blok M yang menjadi tempat para penumpang menuju busnya, barisan calon penumpang busway masih saja mengular hingga sekitar 500 meter sehingga sejak dari mulai berdiri di dalam antrian hingga berdiri di depan pintu busway diperlukan waktu sekitar 40 menit.

Karena selalu ada calon penumpang yang tidak sabaran, para petugas dari Dinas Perhubungan DKI dan PT Jakarta Ekspres Trans senantiasa menyeru kepada para calon penumpang untuk patuh dan tertib mengantri.

Akan tetapi, konsistensi petugas untuk menegakkan aturan main menaiki busway mulai meluntur, semisal dari tata cara mengantre di halte bis dan memasukkan kartu pas masuk digantikan dengan cara langsung menyerahkannya kepada petugas.

"Terpaksa mas, soalnya kotak kartu di dalam mesinnya cepat penuh. Kami selalu harus siaga agar para penumpang tidak terganggu oleh para copet umpamanya, makanya kami agak galak kepada orang yang mencurigakan," kata seorang petugas yang seragamnya mirip seragam militer.

Juga, janji pengelola untuk memberangkatkan bis setiap beberapa menit cenderung mulai tidak konsisten karena di Terminal Blok M atau pun Jakarta Kota bis-bisnya bisa ngetem hingga lebih dari 15 menit.

Hal itu, menurut seorang supirnya, karena mereka tidak bisa beristirahat secara cukup. "Jangankan untuk makan, untuk kencing saja tidak sempat. Bayangkan kalau kami kebelet kencing atau ke belakang sambil mengemudikan bis... bisa berbahaya," kata supir itu.
(www.gatra.com)


<...Kembali ke Buletin
 
 
 
Melsa-i-net Website
Melsa Member Area
Netweaver Web Development
43a.net Web Hosting Area
Praxis VCD Transfer