:home:about:advertise:subscribe:feedback:help:contact
kembali ke buletin

DVMBG Mengirimkan Tim ke Gunung Papandayan GARUT


Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) telah mengirimkan tim ke lokasi Gunung Papandayan di Kab. Garut untuk mengukur tingkat deformasi, yakni untuk mengetahui pengembangan atau penyusutan suhu gunung.

"Ada tiga parameter yang digunakan untuk mengukur kegiatan atau aktivitas gunung berapi, yakni temperatur, kegempaan, dan deformasi," ungkap Direktur DVMBG Yousana OP Siagian yang dihubungi di Bandung, Selasa (20/7) malam. Ia menambahkan tim berjumlah lima orang dan sudah berangkat sejak Senin (19/7).

Dikatakannya, tim tersebut akan mengecek pergerakan tanah dari Terminal Gunung Papandayan hingga bibir Kawah Emas, apakah terjadi penggelembungan atau pembengkakan akibat tekanan dari kantong magma. "Atau sebaliknya tidak ada tekanan dari kantong magma atau kondisi permukaan tanah tetap datar. Pemantauan akan menggunakan metode levelling," ujarnya.

Metode levelling tersebut, jelas Yousana, akan memanfaatkan patok-patok yang telah tersedia di sana untuk melihat pergerakan tanah apakah membengkak atau tidak (deformasi). "Ketika terjadi pembengkakan permukaan tanah, dapat dikatakan aktivitas tekanan dari kantong magma telah terjadi. Hal tersebut pada tahun 2002 lalu pernah dilakukan ketika aktivitas gunung api tersebut meningkat," katanya.

Dari hasil tim deformasi pada tahun 2002 lalu, diungkapkan, permukaan tanah dari Terminal Gunung Api Papandayan sampai bibir Kawah Emas, telah terjadi pembengkakan sebesar 10 sentimeter.

Sementara itu, aktivitas Gunung Api Papandayan sampai hari Selasa (20/7) pukul 6.00 WIB, jumlah kegempaan tektonik yang terjadi sebanyak satu kali dan kegempaan vulkanik B (kegempaan dangkal) sebanyak 4 kali.

"Sedangkan aktivitas pada 19 Juli 2004, diketahui kegempaan vulkanik B sebanyak 31 kali, kegempaan vulkanik A (kegempaan dalam) sebanyak 5 kali dan kegempaan tektonik sebanyak dua kali. Sampai sekarang, status Gunung Api Papandayan masih ditetapkan dalam status waspada atau level dua," katanya.

Sepi pengunjung

Sementara itu, sejak diberlakukannya status "waspada" pada Gunung Papandayan beberapa hari lalu, kawasan wisata Papandayan tampak sepi pengunjung. Pada Selasa (20/7) tercatat hanya tiga orang wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut.

Sementara itu, catatan seismograf yang berada di pos pengamatan menunjukkan, aktivitas Gunung Papandayan pun masih terlihat tinggi ditandai dengan tingginya gempa vulkanik hingga Selasa (20/7) malam. Status "waspada" pun masih tetap diberlakukan.

Berdasarkan penuturan petugas BKSDA Jabar II wilayah Garut Resor Gunung Papandayan, Endang Yusuf dan Tarwa kepada "PR" kemarin siang di sekitar lokasi kawah, jumlah pengunjung di kawasan tersebut menurun drastis. Bila pada hari biasa sebelum status "waspada" diberlakukan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) para pengunjung mencapai puluhan orang, maka kemarin hanya dikunjungi tiga orang saja.

"Ketiga orang yang datang kemari itu adalah orang asing dari Prancis dan Inggris. Mereka pun hanya jalan-jalan saja bukan untuk berkemah. Sedangkan para pendaki lokal sama sekali tak ada yang datang," tutur Endang.

Menurutnya, hanya para penduduk di sekitar Gunung Papandayan saja yang masih terlihat melewati daerah tersebut untuk berkebun di sebelah timur punggung gunung tersebut.

Berdasarkan pengamatan "PR", kawasan wisata ini juga tampak lengang. Lapangan parkir terlihat sepi dari mobil dan beberapa warung terlihat tutup karena tak ada pengunjung yang datang. Sebanyak 15 pemandu pendakian pun hanya bercengkerama di posnya karena tak ada pendaki yang harus diantarnya selain tiga orang turis tersebut.

"Padahal sebelum diberlakukannya status 'waspada', para pendaki banyak sekali yang datang. Bila pada hari biasanya, saat siang hari minimal sepuluh mobil datang ke sini," kata Asep Saefudin (45), seorang pemandu pendaki yang ditemui di posnya. Sehari sebelumnya petugas tiket masih tercatat sebanyak 20 orang turis asing yang datang dan belasan pendaki lokal yang berkunjung.


Sebelas gunung api

Di sisi lain, ia memaparkan 11 gunung api di Indonesia sampai sekarang masih ditetapkan dalam status ”Waspada” atau level dua oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG), mengingat aktivitasnya yang berada di atas normal.

Ke-11 gunung api itu adalah Semeru, Kawah Ijen dan Bromo di Jawa Timur, Papandayan di Jabar, Gunung Krakatau yang berada di antara Provinsi Banten dengan Lampung. Gunung api Lokon, Karang Etang, dan Awu di Sulawesi Utara, Gunung api Ibu dan Dukono di Maluku, serta Egon di Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Penetapan status waspada pada ke-11 gunung api tersebut tidak terlepas dari kegiatannya di atas normal. Untuk itu, perlu dilakukan pemantauan terus-menerus dan langkah evaluasi apakah letusannya merupakan siklus/periode letusan besar atau letusan kecil," ujarnya.

sumber : pikiran-rakyat

kembali ke buletin 

home :about :advertise :subscribe :feedback :help :contact 

Copyright © 2004 melvar lintasnusa, pt 
bandung, id 

 
Edisi 41 - Juli 2004 
 
Melsa Alert - Virus News