Seperti
halnya kota-kota lain di Inggris, para keluarga di Birmingham
sejak awal Desember sudah sibuk berbelanja pernak-pernik, lampu,
maupun hiasan Natal untuk dipajang di rumah mereka. Banyak kafe,
bar, dan toko, walau pemiliknya ada yang beragama Muslim dan Hindu,
juga ikut memasang pohon-pohon terang sebagai etalase untuk memikat
pengunjung. Namun pemandangan yang paling sering ditemui adalah
orang-orang yang berdandan ala Santa Claus alias Noel Baba alias
Sinterklas, tokoh favorit yang selalu muncul menjelang perayaan
Hari Natal.
Mulai dari pergi ke bar untuk berpesta, mencari uang, sampai
mengikuti turnamen lari maraton, pasti ada yang memakai topi atau
kostum merah khas Sinterklas. Berunjuk rasa-pun juga memakai kostum
Sinterklas seperti yang dilakukan akhir pekan lalu di London.
Berkat imajinasi para pujangga Amerika dan gencarnya iklan perusahaan
minuman ringan Coca-Cola, tokoh suci asal Turki bernama Santo
(St) Nicholas berubah menjadi kakek periang nan menggemaskan bernama
Sinterklas yang membawa banyak hadiah dengan mengendarai kereta
yang ditarik sekelompok rusa terbang dari Kutub Utara.
Seperti yang diberitakan harian ”The Sunday Times”
akhir pekan lalu, para ilmuwan telah merampungkan rekonstruksi
wajah ”Sinterklas” yang sebenarnya. Dengan memanfaatkan
kecanggihan komputer seorang antropolog dari Universitas Manchester,
Caroline Wilkinson, menyajikan wajah St.Nicholas dalam bentuk
tiga dimensi. Perupaan tersebut bersumber dari penelitian tulang
tengkorak St. Nicholas yang dilakukan atas seizin Gereja Vatikan
di Gereja San Nicola, Bari, Italia, pada dekade 1950-an.
Hasilnya sungguh berbeda dari rupa Sinterklas yang sering kita
saksikan melalui berbagai iklan dan kartu ucapan. Seperti yang
ditayangkan stasiun televisi BBC pada akhir pekan ini, wajah St.
Nicholas yang sebenarnya, menurut versi komputer, merupakan seorang
pria berewok berhidung patah berusia 60-an tahun yang sepintas
lebih mirip seorang kriminal ketimbang seorang kakek yang lucu.
St. Nicholas yang Legendaris
Menurut data yang dihimpun situs lembaga sosial asal Amerika,
St. Nicholas Center, Nicholas lahir pada abad ke-3, konon pada
tahun 270, di Desa Patara, sebelah selatan Turki, yang dulu masih
bernama Bynzantium di bawah kekuasan Kekaisaran Romawi.
Dia merupakan anak keluarga berada, namun Nicholas kecil menjadi
yatim-piatu saat kedua orang tuanya wafat karena wabah penyakit.
Kepatuhannya atas ajaran cinta kasih kepada sesama yang dilakukan
Yesus Kristus seperti yang tertulis di Alkitab membuat Nicholas
tidak segan-segan menyisihkan kekayaan yang diwariskan orang tuanya
kepada mereka yang berkekurangan, sakit, maupun yang sedang menderita.
Sifat kedermawanannya yang melekat membuat Nicholas muda mengabdikan
dirinya untuk melayani sesama dengan menjadi uskup di Kota Myra.
Nama Nicholas menjadi terkenal di penjuru Myra karena secara tulus
membantu masyarakat yang lemah, para pelaut, dan sangat sayang
kepada anak-anak. Sifat welas asih Nicholas tak pelak menjadi
legenda dan salah satunya yang terkenal, yaitu kisah seorang ayah
dan tiga anak perempuannya yang hidup dalam kemiskinan.
Demi menyambung hidup, tiada jalan keluar bagi ayah tersebut
selain melepas ketiga putrinya sebagai pengantin. Masalahnya,
mereka tidak punya harta yang berharga sebagai mas kawin untuk
memikat mempelai laki-laki. Menurut tradisi setempat, semakin
berharga mas kawin yang disediakan, makin besar peluang untuk
dipersunting laki-laki dari kaum berada.Keajaiban terjadi di tengah
kegundahan ayah tersebut, yang berencana melacurkan ketiga putrinya
demi mendapatkan mas kawin.
Tiga malam berturut-turut sekantung emas dilemparkan ke dalam
rumah keluarga tersebut sebagai pengganti mas kawin. Pada malam
ketiga, ayah ketiga putri tersebut mengintip untuk mencari tahu
siapa yang melempar kantung-kantung emas itu. Keesokan harinya
dia tidak segan-segan untuk mengabarkan ke penjuru Kota Myra bahwa
Nicholas-lah yang memberikan kebaikan kepada mereka.
Kisah tersebut akhinya memunculkan tradisi di negara-negara Barat
bahwa menjelang hari Natal anak-anak membantu orang tua mereka
memasang beberapa kantung atau kaus kaki panjang di dekat Pohon
Terang.Siapa tahu Sinterklas akan menaruh hadiah di kantung-kantung
tersebut pada suatu malam. Selain itu ada juga cerita bahwa yang
dilempar Nicholas kepada rumah keluarga miskin tersebut bukanlah
tiga kantung emas melainkan bola-bola emas. Itulah sebabnya Sinterklas
juga disimbolkan dengan tiga bola emas, yang bisa juga diganti
dengan jeruk.Nicholas juga dikabarkan sempat mendekam di penjara
dan menjalani masa pengasingan atas perintah Kaisar Diocletian,
yang sangat antikristiani.
Konon sebagian besar penghuni penjara Romawi merupakan para uskup
dan kaum rohaniwan ketimbang bramacorah maupun pembunuh. Setelah
bebas, Nicholas tetap setia menjadi pengikut Kristus dan menerapkan
ajaran cinta kasih kepada umat dan masyarakat sekitar hingga akhir
hayatnya pada tanggal 6 Desember 343 dan dimakamkan di gereja
di Myra. Tidak lama kemudian dia dianugerahi gelar oleh Gereja
Vatikan sebagai orang suci (Santo). Tanggal wafatnya diperingati
sebagai hari perayaan Santo Nicholas.
Jasadnya Diperebutkan
Sayang, kepicikan kalangan rohaniwan Kristen Eropa di abad pertengahan
membuat jasad St.Nicholas tidak dapat beristirahat dengan tenang
dan diperlakukan sebagai barang dagangan karena dianggap benda
keramat untuk menarik minat banyak peziarah sehingga mendatangkan
keuntungan bagi tempat ibadah dan kota setempat.
Menurut data dari The Sunday Times Magazine, konon beberapa gereja
memiliki potongan tulang belulang St. Nicholas. Tiga gereja di
Prancis mengklaim memiliki beberapa tulang St. Nicholas, seperti
di gereja di Toulouse yang menyimpan tulang jari, gereja di Rimini
yang mengoleksi tulang lengan, sedangkan di Corbie menyimpan potongan
gigi. Namun yang paling terkenal adalah gereja di Bari yang menyimpan
tengkorak St. Nicholas hasil curian dari kuburan di gereja di
Turki.
Pada awal bulan Mei 1087, sekelompok tentara bayaran dan pelaut
Kristen asal kota Bari, Italia, berhasil menyelinap ke kota pelabuhan
Myra di sebelah selatan Turki menuju ke suatu biara. Di biara
tersebut, konon mereka berhasil mencuri tulang belulang St. Nicholas.
Pencurian tersebut sampai kini tetap dikenang melalui prosesi
tahunan yang dilakukan setiap tanggal 6 Mei di lepas pantai Bari.
Gereja San Nicola, Bari, yang menyimpan tulang-belulang curian
tersebut kini menjadi salah satu tempat ziarah paling favorit
di Eropa.
Menurut pakar sejarah teologi dari Universitas Oxford, Pendeta
Alister McGrath, kepemilikan tulang-belulang St.Nicholas di beberapa
gereja terkait dengan pemahaman bahwa kepemilikan benda-benda
keramat erat kaitannya dengan doktrin kekuasaan gereja di abad
pertengahan. ”Makin banyak benda keramat yang disimpan di
suatu gereja, makin besar pula dominasi gereja tersebut di tengah
banyaknya tempat ibadah. Ziarah mendatangkan bisnis dan kepemilikan
benda-benda keramat dari orang suci menarik banyak turis,”
kata McGrath.
Evolusi menjadi Sinterklas
Di Eropa hari wafatnya Santo Nicholas, 6 Desember, ditetapkan
sebagai hari raya. Tradisi tersebut muncul berkat kebiasaan yang
dilakukan para biarawati Prancis pada abad ke-12. Diilhami dari
kisah ”tiga kantung emas” tersebut, pada malam hari
raya Santo Nicholas para biarawati selalu membagikan hadiah kepada
keluarga-keluarga miskin berupa kacang, jeruk, dan manisan yang
dibungkus dalam kantung.
Kebiasaan tersebut menyebar ke daerah-daerah di sekitar Prancis
dan akhirnya menjadi tradisi di penjuru Eropa.Namun pada abad
ke-16, popularitas perayaan St. Nicholas mengundang kegundahan
bagi kalangan rohaniwan gereja Protestan di Jerman dan Belanda
yang meyakini bahwa tokoh yang sepatutnya disembah hanyalah Yesus
Kristus.
Mulanya kalangan gereja sempat melarang masyarakat membawa dan
membagikan manisan di hari raya St. Nicholas, seperti yang terjadi
di Amsterdam. Namun larangan tersebut hanya mengakibatkan kemarahan
dan pembangkangan dari masyarakat dan akhirnya tidak populer.Tradisi
perayaan St. Nicholas kemudian diperkenalkan para imigran Belanda
di Amerika Serikat (AS). Namun di negeri Paman Sam itulah citra
St. Nicholas secara bertahap ”dipercantik” oleh para
pujangga setempat dari sekadar orang baik dan suci menjadi seorang
kakek sakti yang gemar berkelana.
Mula-mula seorang penulis bernama Washington Irving pada tahun
1809 mencitrakan St. Nicholas sebagai pelindung Kota New York
yang berkelana dengan kuda. Pada tahun 1822, pujangga bernama
Clement C. Moore melalui sajaknya A Visit from St. Nicholas berkhayal
bahwa St. Nicholas mengendarai kereta yang ditarik rusa-rusa terbang
untuk membawa hadiah kepada anak-anak baik melalui cerobong asap
rumah. Kemudian seorang kartunis bernama Thomas Nast dalam koran
Harper’s Weekly pada tahun 1860 menggambarkan tampilan fisik
St. Nicholas sebagai orang tua yang menghisap cerutu, berjanggut
putih lebat, dan memakai ikat pinggang besar. Sejak saat itu St.Nicholas
dirubah namanya menjadi Santa Claus atau Sinterklas.
Kartu natal yang menggambarkan Sinterklas memakai jubah merah
sebenarnya pertama kali muncul pada tahun 1885. Namun pihak yang
paling berperan memperkenalkan Sinterklas dengan tampilan seperti
di atas adalah perusahaan minuman ringan, Coca- Cola. Selama lebih
dari 30 tahun berturut-turut sejak 1931, setiap kali menayangkan
iklan bertema Natal, Coca-Cola sukses mempertahankan wujud Sinterklas
sebagai kakek tambun berjanggut putih, periang, berkelana dengan
kereta yang ditarik sekelompok rusa terbang sambil membawa hadiah
untuk anak-anak. Karakter St. Nicholas yang bersahaja akhirnya
tergantikan oleh Sinterklas yang lucu dengan tawanya yang khas
ho..ho..ho..ho.
Tampilan Sinterklas yang periang dengan pipi tembam kemerah-merahan
versi khayalan para pujangga Amerika dan Coca-Cola lebih menarik
ketimbang perkiraan rupa asli St.Nicholas versi komputer yang
terlihat menyedihkan dan tidak komersil. Namun yang jelas tampilan
Sinterklas tersebut berhasil menggeser karakter asli St. Nicholas,
seperti yang diungkapkan seorang pengusaha asal Turki, Sami Dundar,
kepada harian The Wall Street Journal. Bila St.Nicholas menjadi
suri teladan bagi umat Kristiani, menurut Dundar, Sinterklas justru
bukan mewakili agama manapun. ”Dia adalah industri,”
kata Dundar suatu ketika.
Penulis adalah wartawan SH, tinggal di Birmingham
sumber : www.SinarHarapan.co.id