Polisi kembali mengingatkan masyarakat agar mewaspadai kemungkinan
terjadinya aksi terorisme, termasuk melalui peledakan bom, saat
perayaan Natal 2004 dan Tahun Baru 2005. Tragedi bom Natal 2000
yang terjadi di beberapa wilayah di Tanah Air tetap harus menjadi
cerminan. Namun, diharapkan kewaspadaan itu juga tidak dilakukan
secara berlebihan.
Direktur Antiterorisme Kepolisian Negara Republik Indonesia
(Polri) Brigadir Jenderal (Pol) Pranowo Dahlan mengungkapkan hal
itu kepada wartawan, Jumat (10/12) di Jakarta. "Saya rasa
kewaspadaan tetap perlu, tetapi jangan berlebihan. Semoga tidak
terjadi lagi (teror bom-Red) di gereja-gereja maupun di fasilitas
publik lainnya, seperti di mal-mal," katanya.
Menurut Pranowo, pengamanan Natal ditangani polisi dengan dua
langkah. Pertama, pengamanan dengan operasi Natal tahunan yang
dilakukan setiap kepolisian daerah (polda). Pengamanan oleh polda
dilakukan untuk meminimalisasi gangguan terhadap perayaan Natal,
yang dilakukan polisi bersama warga setempat. Pengamanan ini bersandi
Lilin-2004, dengan kekuatan operasi 14.292 personel.
Kedua adalah meminimalisasi potensi gangguan teror, dengan terus
mengejar buronan teroris yang telah diidentifikasi. "Ini
termasuk bagian tugas saya untuk mengejar mereka (buronan-buronan
itu-Red). Saya kan hanya sebagian kecil saja," kata Pranowo,
yang juga Ketua Detasemen Khusus 88 Antiteror.
Ditanya tentang data intelijen mengenai rencana teror terhadap
perayaan Natal tahun ini, ia menyatakan belum ada indikasi ke
arah sana. Akan tetapi, ia menekankan kembali bahwa kewaspadaan
tetap perlu karena teror bisa terjadi setiap saat.
Terus berusaha
Terhadap perburuan Dr Azahari dan Noordin M Top, dua buronan
berbagai kasus terorisme, Pranowo berujar, "Kami tidak bisa
menghitung persentase kemungkinan penangkapan itu."
Yang penting, lanjut Pranowo, polisi berusaha semaksimal mungkin.
Ia tidak mengelak soal masih dibawanya bahan peledak oleh kelompok
yang direkrut Azahari dan Noordin M Top. Menurut dia, temuan bom
di rumah kontrakan di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, serta penangkapan
Rois dan kawan-kawan yang siap dengan bom bunuh diri bisa menjadi
bukti.
Bom di Cicurug dan yang dibawa Rois dan kawan-kawan dibikin
untuk membela diri jika sewaktu-waktu mereka digerebek polisi.
Sejauh ini, tambah Pranowo, polisi belum pernah menemukan dokumen
soal rencana teror berikutnya oleh kelompok tersebut. "Memang
ditemukan dokumen, misalnya saat penggeledahan di rumah kontrakan
di Cicurug, Sukabumi. Tetapi tidak mungkin mereka akan gamblang
menggambar sketsa rencana peledakan jika memang direncanakan ada
peledakan," kata Pranowo lagi.
Ia mencontohkan, untuk peledakan di Kedutaan Besar Australia
di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saja orang-orang terdekat
Azahari pun tidak tahu lokasi mana yang akan diledakkan. Bahkan,
si "pengantin", istilah untuk orang yang siap melakukan
peledakan bom bunuh diri, pun belum tahu titik mana yang akan
diledakkan, setidaknya sampai satu jam sebelum peledakan.
Operasi Lilin-2004
Sehubungan dengan pengamanan Natal 2004 ini, Kepala Polri Jenderal
(Pol) Da’i Bachtiar menyatakan Polri menggelar operasi kepolisian
dengan pola khusus terpusat, dengan sandi Lilin-2004.
Menurut Kepala Polri, dalam paparannya di hadapan Komisi III
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhir November lalu, operasi terkait
akan melibatkan seluruh polda dengan kekuatan total operasi 14.292
personel.
Cara bertindak yang akan dilakukan, kata Da'i menambahkan, antara
lain penjagaan, pengaturan, pengawalan, dan patroli pada lokasi-lokasi
yang menjadi pusat keramaian, termasuk usaha menjaga kelancaran
lalu lintas serta pencegahan pelanggaran dan minimalisasi terjadinya
kecelakaan lalu lintas.
"Selain itu, dilaksanakan pula langkah-langkah deteksi
terhadap kemungkinan yang mengarah pada terjadinya ancaman dan
gangguan kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat), serta
melakukan penindakan hukum terhadap semua pelaku tindak pidana,
sesuai dengan hukum yang berlaku,"
sumber:kompas