Menurut batasan fisika, petir adalah lompatan bunga api
raksasa antara dua massa dengan medan listrik berbeda. Prinsip
dasarnya kira-kira sama dengan lompatan api pada busi. Di
alam sekitar kita, petir biasa terjadi pada awan yang tengah
membesar menuju awan badai (Cumulonimbus). Sedemikian raksasanya
sampai-sampai ketika petir itu melesat, tubuh awan akan
terang dibuatnya. Dan, sebagai akibat udara yang terbelah,
sambarannya yang rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik
itu juga akan menimbulkan bunyi yang menggelegar bunyi yang
kemudian biasa kita sebut: geluduk, guntur, atau halilintar.
Dalam musim penghujan seperti saat inilah awan-awan jenis
ini banyak terbentuk.
Di lain kesempatan, ketika akumulasi muatan listrik dalam
awan tersebut telah membesar dan stabil, lompatan listrik
(eletric discharge) yang terjadi pun akan merambah massa
bermedan listrik lainnya, dalam hal ini adalah Bumi. Penghubung
yang 'digemari', merujuk Hukum Faraday, tak lain adalah
bangunan, pohon, atau tiang-tiang metal berujung lancip.
Memang belum pernah ada ilmuwan yang pernah menekuni langsung
bagaimana terjadinya fenomena alam ini. Namun, mereka menduga
hingga lompatan bunga api listriknya sendiri terjadi, ada
beberapa tahapan yang biasanya dilalui. Pertama adalah pemampatan
muatan listrik pada awan bersangkutan. Umumnya, akan menumpuk
di bagian paling atas awan adalah listrik muatan negatif;
di bagian tengah adalah listrik bermuatan positif; sementara
di bagian dasar adalah muatan negatif yang berbaur dengan
muatan positif. Pada bagian bawah inilah petir biasa berlontaran.
Besar medan listrik minimal yang memungkinkan terpicunya
petir ini adalah sekitar 1.000.000 volt per meter. Bayangkan
betapa mengerikannya jika lompatan bunga api ini mengenai
tubuh makhluk hidup!
Akibat kondisi tertentu, Bumi yang cenderung menjadi peredam
listrik statis, bisa pula ikut berinteraksi. Hal ini dimungkinkan
jika pada suatu luasan tertentu terjadi pengkonsentrasian
listrik bermuatan positif. Apakah itu di bawah bangunan
atau pohon. Ketika beda muatan antara dasar awan dengan
ujung bangunan/pohon sudah mencapai batas tertentu, akan
menjadi suatu kejadian lumrah jika kemudian terjadi perpindahan
listrik. Maka secara fisik kita akan melihatnya sebagai
petir menyambar bangunan atau pohon. Muatan yang begitu
besar selanjutnya akan segera menyebar ke seluruh bagian
bangunan/pohon, untuk kemudian menjalar ke tanah dan ternetralisasi
pada kedalaman yang mengandung air tanah.
Kondisi seperti itu sudah pasti amat berbahaya bagi orang-orang
yang ada di sekitarnya. Jika sambarannya tak terlampau kuat,
korbannya paling hanya mengalami cidera dan/atau shock.
Namun jika serangannya kuat, korbannya akan tewas seketika
karena selain terbakar ia akan menjadi 'penghantar' listrik
yang besarnya mencapai ribuan volt.
Kemajuan teknologi sebenarnya telah memungkinkan cara-cara
pengendalian arus listrik yang begitu besar dari langit
itu. Yakni, dengan penangkal petir dimana arus listrik yang
begitu besar ditangkap sebuah atau sejumlah pucuk tembaga
runcing lalu dialirkan lewat 'jalan tol' berupa kawat tembaga
yang terpasang di sisi bangunan dan langsung dibawa menuju
air tanah.
Menurut penelitian, daerah serbuan petir sendiri tak selamanya
merupakan daerah yang dinaungi awan-awan besar. Sejumlah
kasus menunjukkan bahwa suatu daerah pernah mendapat sambaran
petir hebat meski langit di atasnya bersih dari awan. Contoh
paling ekstrim yang pernah dicatat terjadi di Hereford,
Inggris. Suatu ketika sebuah petir kuat menyerbu sebuah
gedung setelah petir ini menempuh perjalanan sekitar lima
mil dari 'pusatnya'. Dari kejauhan sejumlah saksi melihatnya
sebagai pemandangan yang begitu indah sekaligus mengerikan.
(Handbook of Unusual Natural Phenomena, 1986).
Itu sebabnya di musim hujan kita lebih baik tak usah bermain-main
di wilayah terbuka atau bernaung di bawah pohon pada saat
hujan. Ini semata-mata untuk menghindar dari kemungkinan
yang tak diinginkan. Sebab, kita tak pernah bisa menduga
apakah tanah yang sedang kita pijak telah berpotensi menjadi
penarik petir atau tidak.
Sumber :
angkasa-online.com
cooperpower.com
jhu.edu
wonderquest.com
physics.nad.ru