Setiap
memasuki 1 Syawal (Idulfitri), Muslim yang menyelesaikan saum
selama bulan Ramadan kemudian menunaikan zakat fitrah. Apakah
yang dimaksud dengan "idul fitrah" dan apakah hubungannya
dengan saum dan zakat fitrah?
Idulfitri berarti kembali kepada kejadian, maksudnya kembali
kepada sifat-sifat asli manusia pada waktu kejadian. Dengan demikian,
Muslim yang telah melaksanakan saum akan kembali kepada sifat-sifat
aslinya sesuai dengan waktu ia dijadikan Allah SWT (takwa). Idulfitri
(siklus fitrah), yang menggambarkan tentang proses pertemuan manusia
dengan hakikat kesejatian dirinya, yaitu kembalinya fitrah atau
kesucian asal manusia setelah hilang karena dosa selama setahun,
dan setelah penyucian diri-sendiri dari dosa selama sebulan.
Karena selama saum di bulan Ramadan, Allah SWT telah menyediakan
kesempatan bagi seorang Muslim untuk menempuh tiga fase, yaitu
fase rahmat, fase magfirah dan fase itqun min an-nar (terbebas
dari api neraka).
Dalam praktiknya, Idulfitri memanifestasikan sikap-sikap dan
perilaku kemanusiaan yang setulus-tulusnya dan setinggi-tingginya.
Dimulai dengan pembayaran zakat fitrah yang dibagikan kepada fakir
miskin diteruskan dengan bertemu sesama anggota umat Islam dalam
perjumpaan besar pada salat Id, kemudian dikembangkan dalam kebiasaan
terpuji bersilaturahmi kepada sanak kerabat dan teman sejawat.
Keseluruhan manifestasi Idulfitri itu menggambarkan dengan jelas
aspek sosial dari hasil ibadah saum.
Pada hakikatnya fitrah manusia adalah kesucian jiwa dari dosa-dosa
dengan kembalinya kepada hakikat kemanusiaannya yaitu tauhid sebagai
bekal asasi yang cenderung (hanif) kepada kebenaran dan bersedia
memperoleh kebenaran yang sesuai dengan tauhid itu. Ahmad Mustafa
Al-Maraghi menerangkan pengertian fitrah, "Keadaan jiwa manusia,
di mana Allah telah menciptakannya untuk menerima kebenaran/tauhid
dan bersedia mendapatkan kebenaran itu".
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah,
tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia-manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah
agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
Fitrah pada manusia telah dibawa sejak lahir yang diberikan
oleh Allah kepadanya. Manusia pada hakikatnya, menurut Alquran
adalah makhluk beragama, karena sewaktu di alam roh manusia sudah
pernah mengadakan suatu perjanjian primordial dengan Allah SWT.
Allah SWT bertanya kepada roh manusia, "Adakah Aku ini Tuhanmu?"
Roh manusia menjawab, "Benar Engkaulah Tuhan kami dan kami
telah menyaksikannya". (Q.S. Al-A'raf 172).
Namun, setelah manusia lahir ke dunia, manusia sering melupakan
perjanjian itu, sebab manusia memang pelupa (Al-Insan mahal al-khatha
wanisyan). Dalam proses perjalanan sejarahnya, fitrah manusia
terkadang bisa berubah disebabkan faktor internal dan ekternal,
seperti pergaulan, pengaruh lingkungan dan pendidikan yang diterima.
Agar fitrah itu tetap terpelihara, seorang Muslim hendaklah mengacu
kepada pola kehidupan yang Islami berlandaskan Alquran dan As-Sunnah.
Karena itu, untuk mengingatkannya Allah SWT mengirimkan para rasul-Nya
kepada manusia, sehingga kewajiban bersaum menyadarkan diri Muslim
dalam rangka mematuhi perintah Allah.
Dengan demikian, saum hendak mengembalikan Muslim untuk menaati
Allah SWT dan bukti ketaatan Muslim kepada Allah SWT adalah menunaikan
zakat sebagai refleksi kefitrahan Muslim. Ketaatan Muslim untuk
menunaikan zakat fitrah di hari Idulfitri menumbuhkan sikap dermawan
dan kepekaan sosial-kemanusiaan, karena hubungan fitrah dan kedermawanan
mengandung hikmah sebagai berikut, pertama, kedermawanan menghapuskan
diri dari dosa dan kesalahan. "Jika kamu menafkahkan sedekahmu,
itu adalah baik sekali.
Jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang
fakir, menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan
kamu dari sebagaian kesalahanmu. Dan Allah mengetahui apa-apa
yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah: 271).
Kedua, harta yang baik adalah yang didermakan, "Berilah
derma (infak), wahai anak Adam, niscaya kamu akan diderma pula".
(H.R. Muttafaq Alaih).
Ketiga, kedermawanan adalah sikap terpuji dan kekikiran adalah
sifat yang buruk, karena itu ajaran Islam mencela sifat kikir,
"Sekali-kali janganlah orang-orang yang kikir dengan harta
yang diberikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa
kekikiran itu adalah baik bagi mereka, Sesungguhnya kekikiran
itu adalah buruk bagi mereka, harta yang mereka kikirkan itu kelak
akan dikalungkan di leher mereka di akhirat.
Dan kepunyaan Allah lah segala warisan yang ada di langit dan
di bumi. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(Q.S. Ali Imran 180).
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa hubungan saum
Ramadan, Idulfitri dan zakat fitrah memiliki hubungan fungsional
yang dimahkotai oleh hikmah, yaitu mengembalikan manusia kepada
kesejatian dirinya (kesucian) dan menumbuhkan sikap dermawan,
karena hikmah itu sendiri berarti pengetahuan dan kearifan yang
mendorong manusia untuk beramal saleh (Al-Hikmah ilmun baitsun
ila al-amali).
sumber : Pikiran Rakyat