Tanyalah
tentang Lebaran Topat di Lombok Barat. Bahkan, seluruh masyarakat
Lombok telah mengenalnya sebagai tradisi yang dirayakan seminggu
setelah Idul Fitri. Warga tidak hanya merayakannya di rumah dan
masjid-masjid, melainkan juga meruah mengekspresikan kegembiraan
ke berbagai penjuru objek wisata dan makam keramat, sehingga muatan
rekreasinya lebih kental ketimbang ritualnya.
Usai salat subuh, para kusir di Kecamatan Lingsar sudah berkemas.
Selasa, pukul 06.30 wita, mereka harus berangkat ke Batulayar
di kawasan Senggigi. Gawe besar Lebaran Topat dimulai. Sedikitnya
25 kusir pun memacu angkutan tradisional yang sudah berhiaskan
janur dan gantungan ketupat. Penumpangnya ibu-ibu, gadis, pemuda
dan anak-anak yang tampak riang gembira. Iring-iringan cidomo
di tengah kota itu menarik perhatian warga masyarakat. Jika semula
cidomo sering kali menjadi bahan umpatan karena menjadi sumber
kemacetan, pada Lebaran Topat masyarakat menjadi maklum, karena
keberadaan mereka justru diberdayakan.
Dari Dusun Buk-Buk di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, iring-iringan
cidomo itu melewati Kelurahan Sayang-Sayang, Rembiga, Kebon Rowek
dan Batulayar, sepanjang 25 km. Di Kecamatan Batulayar, peserta
iring-iringan menuju Lingkok Mas untuk mengambil air, didampingi
tokoh masyarakat dan marbot. Air itu kemudian dibawa ke makam
Batulayar untuk diupacarakan berupa zikir. Di makam tersebut,
sudah menyemut pengunjung yang melakukan hal serupa. Mereka mengambil
air makam yang berisi kembang setaman dan memasukkannya ke dalam
botol untuk dibawa pulang.
Air makam ini konon bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sebagian
masyarakat Lombok Barat memanfaatkan event Lebaran Topat untuk
berkunjung ke Makam Batulayar. OLeh karena itulah, pengunjung
membludak di kawasan seluas 1,5 hektar itu sebelum menikmati alam
Pantai Senggigi yang indah. Keramaian pada saat Lebaran Topat
lebih menyerupai pesta rakyat ketimbang sebuah ritual keagamaan.
Tak ada gema takbir. Yang tampak hanya ekspresi kesenangan yang
lama ditunggu-tunggu.
Yang Terlupakan
Lebaran Topat sebetulnya dirayakan setelah melakukan puasa sunat
di bulan syawal. Tepatnya jatuh pada hari ketujuh terhitung sehari
setelah Idul Fitri. Artinya, hari Lebaran Topat merupakan hari
penutup puasa sunat bulan syawal selama sepekan terhitung sejak
tanggal 2 syawal. Sebagai sebuah tradisi, Lebaran Topat dirayakan
dengan cara doa selamatan, baik di rumah, masjid maupun musholla.
Budayawan Drs. Lalu Agus Fathurrahman mengemukakan, Lebaran Topat
lebih bernuansa rekreatif ketimbang ritual. Seharusnya, hari raya
ini hanya dirayakan mereka yang melakukan puasa sunat. Namun dalam
perkembangannya, banyak yang tidak melakukan puasa sunat justru
merayakan Lebaran Topat. Bahkan, perayaan Lebaran Topat lebih
meriah dibandingkan Idul Fitri itu sendiri.
Tradisi
yang berkembang selama Lebaran Topat adalah melakukan rekreasi
ke sejumlah objek wisata sambil menenteng bekal berupa ketupat
dan kue bantal dengan bahan baku janur. Berkembangnya Lebaran
Topat sebagai tradisi yang bersifat rekreatif membuat kawasan
pantai menjadi tujuan utama. Sejak pagi hari, jalur menuju objek
wisata Senggigi dipadati kendaraan.
Ribuan pengunjung menyemut membawa keluarganya menikmati alam
pantai yang selama ini terlupakan, bahkan ketika Idul Fitri. Pedagang
kaki lima pun meruah hingga ke jalan sepanjang Senggigi. Lebaran
Topat pernah dirayakan secara istimewa dan dijadikan event pariwisata
sejak Warsito memimpin NTB. Pada saat itu, sempat dibuat ketupat
raksasa sebagai awal pembukaan pesta rakyat tersebut. Setelah
Warsito, event Lebaran Topat, kendati tetap dirayakan masyarakat,
kurang menerima perhatian pemerintah.
Setelah Serinata memimpin NTB, pemerintah ingin ambil bagian
memfasilitasi masyarakat. Bahkan, menurut Bupati Lombok Barat,
Drs. H. Iskandar, Lebaran Topat memiliki kekuatan untuk menjadi
aset pariwisata. "Lombok Barat berkepentingan dengan Lebaran
Topat," ujarnya. Persoalannya, ritual yang telah menjadi
pesta rakyat ini belum ditemukan formatnya yang tepat untuk bisa
memancing wisatawan. Namun yang tampak unik adalah adanya kebiasaan
warga masyarakat berkunjung ke Makam Batulayar.
Makam ini, sangat dikeramatkan masyarakat Lombok Barat. Beragam
tujuan masyarakat mendatangi makam tersebut. Misalnya, bagi petani
agar diberikan hasil panen yang memadai dan bagi yang sakit agar
diberikan kesembuhan. Bagaimana kisah-kisah warga masyarakat tentang
Makan Sayid Duhri Al Haddad Al Hadrami itu?
sumber: www.balipost.co.id