Kalau tahun lalu, beredar film drama religi, Kiamat Sudah Dekat
menjelang Idul Fitri, maka untuk Lebaran ditahun 2004 ini sebuah
film keluarga yang unik dan mendidik bakal dinikmati seluruh keluarga
Indonesia, Rindu Kamu Pada-MU, diluncurkan menyambut Hari Raya
Idul Fitri 1425 H.
Dengan konsep drama keluarga yang menyentuh dan edukatif tetapi
tidak dogmatis, film ini diyakni akan banyak ditonton pencinta
film Indonesia dan mereka yang haus hiburan. Terlebih film ini
mengedepankan nilai-nilai religius dalam kajian kecil sehari-hari.
Diproduksi oleh SET Film Workshop dan Cinekom dengan sutradara
Garin Nugroho. Menempatkan sejumlah bintang yang sudah tak asing
lagi dan sejumlah pendatang baru.
Sementara Neno Warisman yang sudah lama tak berakting, kini
hadir dengan menampilkan aktingnya yang tetap memukau. Artis yang
kini sudah tampil dengan busana muslimah lengkap dengan jilbabnya
ini berperan sebagai Ibu Imah, pedagang di pasar yang ditakdirkan
tak punya anak. Akan tetapi kegembiraan bukan berarti tak menjadi
miliknya. Bu Imah menampung Rindu, seorang anak sebatang kara.
Tokoh ini diperani pendatang baru Raisa Pramesi.
Pemain pendukung lain adalah Nova Eliza (sebagai si Cantik),
Jaja Miharja (Pak Sabeni), Didi Petet (Pak Bagja), Fauzi Baadila
(Seno), Reza Bukan (Budi), Sakura H Ginting (Bimo), Putri Mulia
(Asih), Yoellita Palar (Fara), Ella Gayo (Lanang), Yadi Timo (Pacar
Cantik), Arswendi Nasution (Pak Sentoso) dan masih banyak lagi.
Film keluarga yang menarik ini diputar serentak di tiga kota;
Jakarta, Bandung, dan Surabaya, mulai tanggal 25 November 2004.
Berkisah tentang sekumpulan anak di sebuah pasar yang selalu menjadi
sepi ketika Lebaran tiba karena sebagian besar penghuninya pulang
kampung. Akibatnya mereka selalu kesepian pada saat-saat itu,
terlebih karena mereka adalah anak-anak yang lahir dari keluarga
yang mengalami perpisahan. Film ini berkisah tentang upaya anak-anak
mencari cinta yang baru datang ketika sebuah masjid hadir di pasar
itu.
Pasar itu terhimpit di antara gedung-gedung pencakar langit
di Jakarta. Di sana tinggallah tiga anak dengan kisah masing-masing.
Rindu terpisah dengan kakaknya seorang pembuat kubah ketika terjadi
penggusuran. Rindu kin tinggal dengan Ibu Imah, pedagang di pasar
itu yang memang tak punya anak. Rindu tak pernah mau menggambar
masjid dengan lengkap setiap kali disuruh gurunya. Ia hanya mau
menggambarkan masjid lengkap dengan kubahnya bila sudah bertemu
kakaknya. Hal itu menjengkelkan Pak Bagja, gurunya, dan Bu Imah,
ibu angkatnya, karena kalau saja ia mau menyelesaikan lukisan
masjidnya, seorang kolektor lukisan bersedia membelinya.
Asih merindukan ibunya yang meninggalkan bapaknya beberapa tahun
lalu. Tiap sholat ia selalu membentangkan sajadah kosong di sebelahnya,
karena ia yakin dengan demikian ibunya akan datang dan sholat
di sampingnya. Tentu saja perbuatannya merepotkan orang-orang
yang hendak sholat di masjid dan tak mengijinkan ia melakukannya.
Sedangkan Bimo selalu merepotkan orang-orang di sekelilingnya,
karena sayangnya pada Cantik (perempuan pekerja yang hidup sendiri),
yang dianggap sebagai ibunya. Sikap Bimo yang selalu memanggil
Cantik "Ibu" mengakibatkan hubungan Cantik dengan pacarnya
rusak. Sang pacar mengira Bimo memang benar-benar anaknya. Bimo
sendiri tinggal dengan kakaknya, Seno. Setelah orangtua mereka
meninggal, Seno-lah yang menanggung hidup mereka berdua.
Sementara di komedi putar milik Bapak Asih yang dipasang tak
jauh dari sana, seorang remaja puteri misterius bernama Fara melancarkan
protes ayahnya. Setiap pulang sekolah Fara selalu di sana, sendirian
asyik dengan komedi putar itu. Sebagaimana anak-anak lain, Fara
juga merindukan kasih sayang ayahnya dengan caranya sendiri.
Di pasar itu ada masjid swadaya yang sudah rusak dan terhenti
perbaikannya karena kekurangan dana. Pak Bagja, penjaga masjid
tersebut, seorang ustaz muda yang lugu dan guru idealis yang selalu
mendampingi anak-anak dalam menghadapi persoalan mereka. Pak Bagja
membuka kelas untuk mengajar anak-anak di pasar itu yang memang
tak terlalu terurus oleh orangtua masing-masing. Oleh karena ia
yang mengajarkan anak-anak itu macam-macam, maka ketika anak-anak
itu bermasalah atau merepotkan, Pak Bagja yang selalu kena sasaran.
Kenakalan dan keluguan anak-anak itu dengan segala masalahnya
menjadi kisah yang segar sekaligus menyentuh, mengiringi penantian
orang-orang pasar akan kubah untuk menyempurnakan masjid mereka.
Kubah yang akhirnya datang juga, menjelang Lebaran, meskipun sesuatu
tengah menunggu mereka semua untuk mengakhiri semuanya. Apa itu?
Untuk mengetahuinya, saksikan saja di bioskop-bioskop kesayangan
Anda. (19/01)
Sumber: Disctarra.com