Entah sejak kapan, kebiasaan memberi atau menerima sesuatu bingkisan
dan hadiah kayaknya kejadian yang jamak dan terjadi di mana-mana.
Ngasih dan terima anteran memang kejadian intim yang terjadi
di setiap saat khusus dan pada hari-hari bahagia. Khususnya di
hari Lebaran, banyak orang sudah terbiasa memberikan anteran kepada
keluaga dan handai tolannya, entah itu bungkusan berisi ketupat
dengan semur daging, sambal goreng pete, ayam opor dan lainnya,
ataupun sirup dan limun, kue kering dan kue basah, buah-buahan
segar dan kurma arab.
Bahkan, bisa juga cuma sekadar kartu ucapan selamat, atau telegram
Idul Fitri atau kemudian bertat-tit-tut via SMS.
Dalam perjalanan waktunya, barang anteran itu memang berkembang.
Demi kepraktisannya, anteran itu mulai berisikan minuman dan makanan
lezat dalam kemasan botol dan kaleng atau wadah plastik. Kiriman
anteran pun makin meluas karena anteran yang kemudian bernama
keren parsel menjadi kado berkala pada hari-hari penting bagi
seseorang tertentu.
Sejak zaman "kebangkitan" Orde Baru 1970-an, istilah
parsel Lebaran dan hari raya lainnya seakan-akan sebagian maknanya
berubah, dari anteran menjadi semacam "upeti" wajib
yang harus keren dan bernilai tinggi.
Jenis dan isi parsel pun bukan lagi model ketupat Lebaran lagi,
namun berupa wadah keren berisikan benda peranti makan minum,
makanan dan minuman kelas tinggi, lampu kristal asli, barang elektronika
besar kecil, serangkaian parfum botolan, buket kembang impor,
buku referensi dan novel mahal, alat tulis menulis luks, kamera
dan telepon genggam mutakhir, serta benda lain-lainnya yang indah
dilihat, enak dipakai, dan asyik dimiliki karena nilainya tinggi.
Parsel yang barang anteran model ginian biasanya memang kiriman
buat penerima yang dianggap istimewa. Entah si penerima itu orang
yang dihormati, disenangi, dituakan, dianggap berjasa, atau orang
yang dirasa bakalan bawa hoki dan bakalan ngasih rejeki besok-besok
hari.
Jadi, dari anteran yang polos tanpa pamrih, hanya berdasarkan
tali silaturahmi dan ikan intimitas, kemudian menjadi barang anteran
bernama parsel berisi barang mewah, bukan lagi bingkisan "tradisional"
sekelas sirop pala manis dan pepes ikan mas. Makna parsel belakangan
ini sudah menjadi lambang setor muka dan setor nama dari seseorang
bagi seseorang tertentu, demi kepamrihan agar dirinya diinget-inget
dan nantinya dibantu-bantu.
Belakangan ini soal parsel masuk bahasan sidang Kabinet Indonesia
Bersatu (KIB), entah itu target kerjanya "100 hari"
KIB atau bukan. Mungkin gara-garanya karena Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) menyatakan pemberian parsel itu awal dari aksi korupsi
yang KKN. Makanya, mulai Lebaran yang tinggal dua mingguan ini,
janganlah kirim parsel ke pejabat.
Gubernur Sutiyoso menyambut imbauan KPK ini dengan sikap tegas
karena Bang Yos akan memasang plakat di pagar rumahnya: "Tidak
Menerima Kiriman Parsel!" Sementara itu, salah satu sidang
penting KIB pun membahas soal parsel ini karena diangap biang
keroknya virus KKN di Indonesia.
Lucunya semua opini itu berupa omong-omong bahasa tinggi alias
wacana. Sebab, inti soal kebiasaan anter-anteran yang sudah "tradisional"
itu kalah dengan emosi dan debat statement kelasnya sidang kenegaraan.
Lebaran tinggal beberapa hari lagi, banyak warga masih tetap bakalan
bikin kudapan dan anteran, seperti ketupat sayur, kue lapis, kolak
kolang-kaling, sirop pandan, goreng empal, dan hidangan khas Idul
Fitri yang setahun sekali.
Kini pejabat nun di atas sana sibuk membicarakan omongan parsel,
apakah harus "yes" atau "no", padahal mereka
itu kebanyakan penerima parsel. Gimana kalau di bulan suci Ramadhan
nan sejuk ini, omongin dong "parsel" khusus Lebaran
bagi warga. Iya enggak?
Sumber : www.kompas.com