:home:about:advertise:subscribe:feedback:help:contact
kembali ke buletin

Mudik Bermobil, Lambang Prestise


Mudik alias pulang kampung sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam perayaan Lebaran di negeri ini. Ia sudah menjadi semacam ritual yang "wajib" hukumnya bagi mayoritas masyarakat Indonesia yang terikat dengan kampung halamannya. Kendati mereka sudah lama menetap di kota yang bukan kampung halamannya, bahkan kartu tanda penduduknya pun sudah beralamat di kota tersebut dan beranak-binak di sana, tetap saja ada semacam kekuatan yang menarik mereka untuk mengembalikan memori masa lalunya.

Secara ekstrem, semua hal dilakukan demi memenuhi hasrat berkumpul dengan sanak keluarga di daerah masing-masing. Setiap Lebaran tiba, selalu kita saksikan betapa repotnya orang-orang yang hendak mudik. Mulai dari menyiapkan barang-barang bawaan sebagai oleh-oleh di kampung, berdesak-desakan saat antre tiket di stasiun dan terminal, berjejal-jejal dalam angkutan umum sampai menghadapi risiko penipuan atau pencopetan selama perjalanan pulang.

Toh, semuanya itu tidak menyurutkan niat untuk pulang ke kampung halaman. Kendala-kendala yang menghadang di kota asal, di perjalanan, bahkan nanti saat kembali ke rumah masing-masing dianggap risiko biasa yang memang wajar dihadapi, yang terpenting adalah bisa sampai di tempat tujuan dan berkumpul bersama seluruh keluarga, tetangga atau teman di saat berkumandangnya gema takbir, tahlil, dan tahmid dari surau-surau dan masjid-masjid. Semua itu tak mungkin bisa dibeli dengan uang berapa pun. Krisis ekonomi yang menurut para pakar masih mencekik bangsa ini seakan tak tampak sama sekali saat menyimak betapa memaksakannya orang untuk melaksanakan mudik ini. Tak peduli berapa besar pengeluaran ekstra yang harus ditanggung demi memenuhi hasrat pulang ke daerah asal.

Pada akhirnya, mudik memang tak lagi sekadar sebuah ritual religi. Lebih dari itu, dalam kenyataannya juga terkandung dimensi sosial-ekonomi. Tak peduli kaya atau miskin, modern atau tradisional, warga biasa atau kaum elite, semua tersatukan dalam satu tujuan bagaimana bisa sampai di daerah asal dan berkumpul dengan handai taulan.


**

Rental Mobil Diburu Menjelang Lebaran
Satu fenomena menarik lain dari ritual mudik ini adalah bisnis persewaan (rental) mobil yang melambung tinggi menjelang Idulfitri. Baik persewaan kendaraan jenis minibus, bus kecil, sedang atau besar, bahkan mobil-mobil mewah jenis sedan. Sebuah selebaran yang ditempel di gerbang-gerbang pabrik di sekitar Jalan Moh. Toha Bandung, misalnya, sudah jauh hari menawarkan kendaraan jenis bus untuk dipakai berama-ramai oleh karyawan pabrik asal Jateng dan Jatim. "Ayo gabung dengan kita, Rek! Mudik ke Jatim (Surabaya, Malang, Situbondo). Biaya murah. Memang, selebaran semacam itu tak bertepuk sebelah tangan di tengah hasrat pulang kampung yang menggelegak. "Saya biasa pulang ke kampung di Malang beramai-ramai dengan teman-teman di pabrik konveksi ini. Dengan pulang beramai-ramai, selain lebih merasa tenang dan aman, saya juga bisa bersama-sama menabung menyiapkan untuk ongkos," ujar salah seorang yang berniat mudik. Ia mengaku mempersiapkan setidaknya uang Rp 2 juta untuk persiapan mudik. "Selain untuk ongkos pulang-pergi sekira Rp 400 ribu, sebagian uang diberikan untuk orang tua dan adik-adik di kampung. Jumlah itu belum termasuk untuk beli baju baru," akunya.

Menyewa kendaraan niaga umum secara rombongan memang lumrah dilakukan para perantau dari strata ekonomi bawah. Fenomena lebih menarik muncul dari kalangan menengah ke atas. Dari perilaku mereka dalam menyewa mobil, jelas orientasi mereka bukan sekadar demi kelancaran di perjalanan atau tidak perlu naik-turun dan berjejal dalam kendaraan umum.

Boleh dikatakan, tradisi mudik menciptakan romantisme tersendiri bagi pelakunya. Mereka bisa bertemu keluarga dan kerabat secara face to face, suatu bentuk komunikasi primitif yang berkesan serta belum bisa ditandingi teknologi komunikasi tercanggih sekalipun. Mereka bisa berkunjung sekehendak hati, tanpa harus melalui birokrasi berbelit-belit sebagaimana di kota.

kembali ke buletin 

home :about :advertise :subscribe :feedback :help :contact 

Copyright © 2004 melvar lintasnusa, pt 
bandung, id 

 
Special Edition
Idul Fitri 2004
 
 
Melsa Alert - Virus News