Silaturahmi
merupakan inti kegiatan yang dilakukan di saat Lebaran. Pada saat
itu keluarga biasanya berkumpul di rumah anggota keluarga yang
dituakan dan saling bermaafan, kemudian mencicipi sajian spesial
khas lebaran, seperti ketupat dengan aneka makanan lainnya.
Supaya terasa berbeda dengan suasana sehari-hari, ketika Lebaran
tiba adakalanya kita perlu pengubah suasana rumah. Pengubahan
suasana ini tidak harus mewah, dengan cara sederhana pun rencana
ini dapat diwujudkan. Misalnya dengan memanfaatkan koleksi barang-barang
lama milik keluarga yang dengan sedikit sentuhan seni, akan dapat
menghidupkan suasana di hari spesial ini. Sebagai representasi
suasana khas Lebaran, Griya Asri menampilkan rumah keluarga Kingman
Banuya.
Keluarga Kingman Banuya, yang interior dan tamannya pernah mengisi
majalah Griya Asri beberapa waktu yang lalu mengubah suasana di
ruang keluarga dan ruang makan, karena di kedua area ini aktivitas
keluarga saat Lebaran sering dilakukan.
Ruang
keluarga dibuat menyatu dengan ruang makan. Kedua ruang ini hanya
dibedakan berdasarkan ketinggian lantai. Untuk penataan Lebaran,
mereka menukar fungsi kedua tempat tersebut. Ruang yang semula
digunakan untuk ruang keluarga, kini dijadikan ruang makan, sedangkan
ruang keluarga diubah fungsinya menjadi ruang makan, karena lebih
luas dan kapasitasnya lebih banyak.
Ruang Keluarga
Arsitektur
rumah ini merupakan rumah tropis dengan dinding eksterior dan
interiornya menggunakan batu bata ekspos. Untuk menyerasikan dengan
bangunan, suasana yang diterapkan untuk interior rumah ini bergaya
etnik Indonesia.
Pada ruangan yang kini difungsikan untuk ruang keluarga, ditempatkan
sebuah kursi panjang kayu yang diletakkan menyerong dan dipercantik
dengan bantal-bantal batik beraneka ukuran dan corak, untuk lebih
memberi kenyamanan. Menempel pada dinding terdapat peti ukiran
sebagai lemari kredensa, untuk meletakkan foto-foto dan pernak-pernik
koleksi keluarga. Sebuah lampu duduk berbentukbola, supaya memberi
efek cahaya yang lebih luas, diletakkan lebih tinggi dengan cara
"diganjal" buku beraneka ukuran tak beraturan.
Pada meja persegi panjang, ditata sajian kue tradisional dan
aneka bubur sebagai makanan pembuka. Alat saji sengaja dibuat
dengan gaya eklektik antara gaya etnik dari alat saji bubur dari
bahan tembikar, dan gaya modern dari cangkir, teko dan gelas yang
memberi aksen warna yang menawan.
Ruang Makan
Ruang
makan dibuat lebih smerak, dengan menempatkan dua buah meja makan,
yaitu meja persegi panjang sebagai meja buffe dan meja bundar
sebagai meja makanan. Meja persegi bergaya etnik dengan finishing
pupur diletakkan menyerong pada sudut ruangan dan hanya diberi
taplak selebar kain jarik motif "parang" dipadu dengan
kain tenun warna off white yang diletakkan asimetris. Penataan
di atas meja, pemilik rumah berkreasi lebih prima dengan menggunakan
barang lama milik keluarga, wadah-wadah keramik kuno dipadu dengan
keramik cokelat tanah yang lebih natural. Selanjutnya penataan
dilengkapi dengan aksesori penunjang lainnya yang dengan sentuhan
yang artistik tampil menawan. Untuk lebih memberi suasana lebih
segar, di sudut meja yang tersisa (karena penempatan menyerong),
ditempatkan tanaman hijau yang tumbuh alami, diperindah dengan
temaram cahaya dari sebuah lampu minyak / obor.
Sudut meja bundar sebagai mea makanan, ditata dengan gaya lebih
modern. Paduan dua taplak meja dengan warnanya yang cerah, dilengkapi
dengan alat saji dari keramik dengan warna-warna yang ceria, terasa
lebih menghangatkan suasana di Hari Raya ini. (Viva/Denyza)
sumber : properti.net
Foto : Ahkamul Hakim
Lokasi : Rumah Kel. Kingman Banuya
Cinere - Jakarta Selatan